PANDEGLANG – Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Banten Adde Rosi Khoerunnisa mengaku miris dengan masih maraknya aksi tawuran antar pelajar di Provinsi Banten.
Dikatakannya, salah satu penyebab aksi tawuran antar pelajar yang kini terjadi dipicu karena selama kurun waktu dua tahun pembelajaran secara tatap muka dihentikan.
“Ada semacam adaptasi selama dua tahun kemarin kan selama pandemi sekolah dikakukan melalui online. Dan sekarang sekolah lagi secara offline, ada perubahan situasi dan kondisi yang anak-anak harus adaptasikan kembali,” kata Adde Rosi yang kini menjabat sebagai Anggota DPR RI Komisi III, Rabu (16/11/2022).
Baca Juga :
- Walikota Serang Mengucapkan Selamat Hari Jadi Kota Serang ke-19 Tahun
- Bapenda Serang Buka Warung BPHTB di Ciruas
- DPRD Kota Serang Mengucapkan Selamat Hari Jadi Kota Serang yang ke-19 Tahun
- Kejar PAD, DPRD Banten Godok Perda Tambang
- Resmi! DPC PPP Pandeglang Terima SK Periode 2026-2031, Target Dongkrak Suara
Tidak hanya itu, diperlukan peran orang tua untuk bisa lebih mengetahui pergaulan anak saat berada diluar sekolah. Pasalnya, lingkungan yang biasa dijadikan anak untuk bermain bisa saja menjadi salah satu pemicu.
“Peran dari orang tua harus lebih mengawasi dan mengetahui bagaimana lingkungan dari anak tersebut. Karena, bisa saja salah satu pemicunya itu dari lingkungan anak bermain,” katanya.
Politisi Partai Golkar itu mengajak kepada seluruh stakeholder untuk lebih proaktif dalam memberikan pemahaman secara khusus untuk anak agar bisa lebih mengetahui dampak yang bakal terjadi dari tindakan kekerasan yang dilakukan.
“Perlu adanya peran samua pihak untuk mengawasi memberikan kasih sayang yang benar, sesuai dengan pendidikan karakter yang benar. Saya rasa anak-anak tidak akan cepat emosi. Dan senggol bacok itu kayanya tidak akan,” katanya. (*/Syamsul)











