SERANG – Dibangun dengan anggaran Rp4,5 miliar dari pajak rakyat, Pasar Tradisional Tunjung Teja di Kabupaten Serang, Banten, kini justru nyaris terbengkalai. Ruko-ruko tampak kosong, sepi transaksi, dan sebagian bangunannya mulai rusak ditumbuhi rumput liar.
Pantauan katakita.co di lokasi pada Kamis pukul 10.00 WIB, suasana pasar sangat lengang. Tidak ada aktivitas jual beli. Deretan kios dan ruko bagian belakang yang seharusnya untuk pedagang justru dibiarkan kosong.
Salah seorang warga Etrik menyebut pasar ini hanya ramai dua kali dalam sepekan.
“Pasar ini hanya diisi pedagang pada hari Senin dan Kamis saja, namun hanya sampai pukul 9. Setelah itu pasar sepi lagi tanpa penghuni,” katanya.
Sepinya Pasar Tunjung Teja membuat warga lebih memilih berbelanja ke Pasar Petir. Alasannya, di Pasar Petir dagangan lebih lengkap dan suasana jual beli lebih hidup.
Dengan kondisi seperti ini, alokasi anggaran Rp4,5 miliar untuk pembangunan pasar dinilai belum berdampak positif pada perekonomian warga sekitar.
Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Kecamatan Tunjung Teja berencana menghidupkan kembali pasar.
Camat Tunjung Teja, Ade Ivan, mengatakan Pemda berencana membangun Koperasi Desa Merah Putih atau Kopdes di area pasar.
“Selama ini fungsi pasar ini memang tidak maksimal. Selayaknya dilakukan revitalisasi agar pasar ini menjadi hidup dan ramai kembali,” ujar Ade Ivan.
Ia berharap dengan adanya Kopdes, aktivitas ekonomi di Pasar Tunjung Teja bisa kembali berjalan dan tidak menjadi bangunan mangkrak.
Pembangunan pasar tradisional seharusnya menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Namun tanpa strategi pengelolaan dan dukungan pedagang, investasi miliaran rupiah dari pajak rakyat berisiko sia-sia.(Suhendi/Red)











