Hukrim  

Kasus Dugaan Kredit Fiktif Mandeg, Dirut BPR Amal Bhakti Sejahtera Labuan Datangi Polres Pandeglang

Foto Direktur Utama (Dirut) Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Amal Bakti Sejahtera Baidowi menggunakan kemeja merah saat mendatangi kantor Satreskrim Polres Pandeglang pada, Senin (30/10/2023)
Foto Direktur Utama (Dirut) Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Amal Bakti Sejahtera Baidowi menggunakan kemeja merah saat mendatangi kantor Satreskrim Polres Pandeglang pada, Senin (30/10/2023)

PANDEGLANG  – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pandeglang belum menetapkan tersangka terhadap eks pegawai Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Amal Bhakti Sejahtera Labuan yang dilaporkan dalam dugaan kasus kredit fiktif.

Lantaran belum adanya eks pegawai BPR Amal Bakti Sejahtera yang dijadikan tersangka, Direktur Utama (Dirut) Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Amal Bakti Sejahtera Baidowi mendatangi kantor Satreskrim Polres Pandeglang pada, Senin (30/10/2023) untuk mempertahankan perkembangan kasus tersebut.

“Tindak lanjut dari pelaporan terkait dugaan pemalsuan. Yang sampai saat ini debitur kita belum P21 dari kejaksaan makanya kita mau kroscek dulu ke kejaksaan. Dan satu lagi klarifikasi terkait dugaan kasus tipibank yang sudah kita ajukan dan sudah ditetapkan tersangka satu orang tapi terlapor yang lainnya belum makanya kita menanyakan statusnya bagaimana. Apabila ada status peningkatan lagi atau belum,” katanya kepada Katakita.co

Pihaknya menyebut laporan yang dilakukam ke Polres Pandeglang sudah berlangsung hampir delapan bulan. Namun, sampai sejauh ini belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka.

“Satu orang dalang nya RSD sudah dijatuhi vonis 4 tahun dan yang lainnya ini yang turut serta sudah di vonis 1,5 tahun dan sudah bebas lagi. Nah ini tindak pidana perbankan nya lagi yang belum ada keputusan apapun. Karena tindak pidana perbankan melibatkan orang-orang dalam yang ada di BPR. Kalau misalkan ini tidak di usut kita sulit untuk menyelesaikan kredit-kredit bermasalah ini,” katanya.

Dia menyebut, nasabah sudah melakukan pembayaran bulanan. Namun, uang yang disetorkan oleh debitur tidak dimasukan kedalam sistem oleh oknum pegawai BPR.

“Sebetulnya nasabah sudah setor. Namun, dari pegawai kami tidak disetorkan untuk angsuran itu saja,” katanya.

Akibatnya, hingga saat ini debitur masih tercatat memiliki tunggakan di BPR.  Bahkan, kerugian yang disebabkan dari kredit fiktif itu mencapai Rp1,6 miliar.

“Jadi debitur yang bukan guru dibuatkan SK sertifikasi palsu oleh pegawai dan diajukan kredit masing-masing Rp70 juta total debitur semua ada 26 debitur. Namun, baru terlacak empat debitur saja,” katanya.

Sementara itu, wartawan Katakita.co masih berupaya melakukan upaya konfirmasi kepada Satreskrim Polres Pandeglang. (Syamsul)

error: Konten di Proteksi