Hukrim  

Astagfirullah! Oknum Anggota DPRD Pandeglang Dilaporkan ke Polisi, Diduga Jadi Pelaku Pelecehan Seksual

Pintu masuk utama kantor DPRD Pandeglang, terlihat satu unit mobil berwarna hitam tengah terparkir (Katakita.co)
Pintu masuk utama kantor DPRD Pandeglang, terlihat satu unit mobil berwarna hitam tengah terparkir (Katakita.co)

PANDEGLANG – Oknum anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pandeglang dilaporkan ke Polres Pandeglang. Dilaporkannya oknum anggota DPRD itu diduga lantaran menjadi pelaku kasus pelecehan seksual terhadap seorang gadis.

Laporan itu kemudian diterima Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Pandeglang. Polisi turut menghadirkan pelapor dan terlapor yang difasilitasi dalam satu ruangan.

Setelah proses fasilitasi berlangsung lebih dari 2 jam, terlapor keluar dari ruangan sekira pukul 11.30 WIB tanpa memberi keterangan apapun ke awak media sambil bergegas menaiki mobil.

Tak lama, pihak pelapor keluar dari ruangan yang sama didampingi tim dari Perlindungan Perempuan dan Anak pada Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Pandeglang.

Kepada wartawan Ibu korban mengatakan, pertemuan itu difasilitasi oleh Kepolisian. Dari pertemuan itu terlapor meminta agar pelapor untuk menghentikan kasus tersebut dan diselesaikan secara kekeluargaan.

“Tadi saya satu ruangan dengan pelaku. Yang dibahas bahwa pelaku ingin kasusnya dihentikan, jangan sampai lanjut. Diselesaikan secara kekeluargaan. Saya memaafkan, cuma proses harus tetap jalan,” katanya.

Baca Juga :

Dia beralasan, kasus tersebut telah “memukul” mental anak dan keluarganya. Apalagi akibat kejadian itu, psikologi anaknya sempat jatuh dan menimbulkan trauma berkepanjangan.

“Harapannya saya lanjut, tidak mau ada korban lain dari kejahatan anggota dewan itu. Harga diri saya sudah diinjak-injak. Anak saya sempat drop, tapi sekarang mulai tenang walaupun masih ada rasa trauma,” katanya.

Dirinya menceritakan, kejadian itu bermula saat bulan April 2022 lalu, anak dan cucunya mengantarkan pesanan makanan ke rumah terlapor yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Yang mana, istri terlapor merupakan langganannya. Tiba di rumah pemesan, pelapor disuruh masuk ke dalam untuk menemui istri terlapor.

“Pas masuk, ternyata tidak ada siapa-siapa. Terus pelaku menanyakan harga pesanan berapa? Anak saya jawab Rp75.000. Lalu pelaku masuk ambil uang dan ngasih Rp100 ribu. Karena tidak ada kembaliannya, terus pelaku bilang ambil saja kembaliannya sambil mengusap kebagian dada anaknya,” katanya.

Tidak sampai di situ, terlapor melakukan hal yang sama saat anaknya sedang mengambil sandal keponakannya. Bagian dada putrinya itu kembali menjadi sasaran. Sontak hal itu membuat anaknya kaget bukan kepalang.

“Saat pulang dia nangis. Saya kira berantem dengan kakaknya. Tapi akhirnya dia curhat ke saya kalau dia ngaku dilecehkan. Saya sempat enggak percaya, tapi anak saya sampai bersumpah kalau dilecehkan oleh pelaku,” katanya.

Sehari setelah kejadian, keluarga pelapor melakukan visum dan membuat laporan ke Polisi. Saat itu mereka didampingi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Akan tetapi urung didampingi dengan alasan anaknya sudah berusia 18 tahun sehingga tidak masuk kategori pendampingan KPAI.

“Dari situ saya nagis, bingung kepada siapa berlindung dan saya sempat tertekan,” keluhnya.

Upaya mediasi sempat dilakukan terlapor beberapa bulan lalu. Namun saat itu tidak ada titik penyelesaian.

“Sempat ada mediasi dari pelaku. Kami dipertemukan di salah satu rumah makan di Pandeglang. Tapi tidak ada kejelasan. Pelaku hanya minta maaf. Kalau maaf, saya terima. Tapi saya tidak mau kasus ini selesai di sini. Proses hukum harus berlanjut,” tegasnya.

Ia berharap, kasus ini tetap dilanjutkan. Sebab, perilaku terlapor sudah sangat merusak mental anaknya. Bahkan hingga saat ini anaknya masih sering berteriak tanpa alasan yang jelas.

Awak media sempat mengonfirmasi Kanit PPA Polres Pandeglang, Ipda Akbar. Namun yang bersangkutan belum mau memberi keterangan.

Sementara itu pengacara korban, Erwanto kepada wartawan mengatakan, jika hari ini pihak pelapor melaporkan kasusnya ke Kepolisian. Namun sebelumnya pelapor telah mencabut laporannya pada 28 April 2022. Surat pencabutan perkara itu ditandatangi langsung oleh korban juga ditandatangi oleh tiga orang saksi.

“Surat pencabutan perkara itu ditujukan kepada Kapolres Pandeglang pada 28 April 2022. Saya masuk di perkara ini pada tahap ini, tidak dari awal kejadian,” katanya. (Sym)

error: Konten di Proteksi