PANDEGLANG – Tinggal di salah satu perkampungan yang sudah padat akan penduduk, tepatnya di Kampung Pasir Waringin RT 005 RW 002, Desa Rawasari, Kecamatan Cisata, Kabupaten Pandeglang-Banten. Ade Sunarya (38) yang bekerja sebagai kuli serabutan harus menetap bersama istri dan keempat anaknya di rumah yang dirasa sudah tidak layak huni.
Ade Sunarya menyebut, rumah yang dibangun hampir 50 tahun silam dengan konstruksi bangunan semi permanen itu sudah ia tempati selama hampir kurang lebih 15 tahun.
Karena, rumah yang ia tempat bersama anak dan istrinya merupakan pemberian dari mertuanya.
Akan tetapi, saat ini bangunan tersebut sudah dalam keadaan rapuh. Bahkan, dua kamar tidur di rumah tersebut tidak pernah lagi ia singgahi.
“Sudah lama ini rusak, bocor mah tidak cuman ya acak-acakan saja. Kita tidur paling ditengah ruma karena kamar sudah tidak layak,” katanya dengan nada rendah saat berbincang bersama wartawan Katakita, Rabu (3/8/2022).
Ade mengaku sebelumnya ia sempat mengajukan untuk perbaikan bedah rumah. Akan tetapi, ajuannya justru ditolak dengan dalih kepada dirinya bahwa rumah yang ia tempati itu semi permanen.
“Pernah di ajukan, tapi ditolak katanya karna tembok rumahnya,” katanya.
Baca Juga :
- SPPG Yayasan Darel Ulum Gunung Kencana Dilaunching
- Peringati Isra Mi’raj PSI Banten Gelar Istighosah dan Doa Bersama di Pandeglang
- Cegah Banjir di Royal Baroe, Walikota Serang Kerahkan Alat Berat untuk Mengeruk Irigasi Cibanten
- SMSI Pandeglang dan PN Pandeglang Sepakat Perkuat Sinergi Informasi Hukum
- Perumdam Tirta Berkah Pandeglang Capai 36.978 Meter Jaringan Sambungan Rumah di 2025
Ade mengaku tidak sanggup jika harus membenahi rumah yang ia tempati dengan biaya sendiri. Dengan nada putus asa Ade menuturkan guna mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari, serta biaya sekolah untuk anak nya yang saat ini sudah ada yang duduk di bangku SMP dan satu di Sekolah Dasar (SD) Ade mengaku harus pontang-panting.
Pasalnya, ia tidak memiliki penghasilan dan pekerjaan yang tetap untuk bisa memberikan nafkah bagi keluarganya sendiri. Bahkan, dengan nada tegas Ade mengatakan, bantuan sosial dari pemerintah pun ia hanya menerima dua kali bantuan melalui program Jaminan Sosial Rakyat Banten Bersatu (Jamsosratu).
“Belum pernah dapat bantuan. Kerja ya palin kerja bangunan, nunggu panggilan aja, kalau ada yang nyuruh kerja, kalau enggak ada yang nyuruh ya mau gimana lagi. Pernah ada jamsosatu, dapat pernah dua kali menerima,” katanya. (Syamsul)











