SERANG – Kenaikan kurs dolar AS hingga Rp18 ribu belum berdampak signifikan terhadap harga bahan pokok penting di Provinsi Banten. Harga beras saat ini masih stabil, meski ada sedikit kenaikan. Jika harga melonjak, Pemerintah Provinsi Banten berencana menggelontorkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Bulog ke pasar.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Banten Iwan Setiawan mengatakan, kenaikan dolar belum mendorong harga beras naik karena tidak dibarengi kenaikan BBM subsidi.
“Sebagai acuan menjaga harga di pasaran agar tidak merugikan produsen petani maupun konsumen. Petani juga bisa jadi konsumen, makanya stabilisasinya dijaga,” ujar Iwan, Jumat (5/6/2026).
Saat ini petani padi di Banten memasuki masa tanam. Sebagian pasokan beras di pasar masih dipasok dari luar daerah, seperti Karawang. Kondisi ini turut memicu sedikit kenaikan harga.
Berdasarkan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), harga rata-rata beras medium Rp13.160/kg, sementara beras premium Rp14.710/kg.
“Memang kenaikan tertinggi ada di beras medium, sekitar Rp700 dari periode sebelumnya,” jelas Iwan.
Disperindag Banten terus berupaya menstabilkan harga agar tetap terjangkau masyarakat. Saat ini harga masih dalam koridor Harga Eceran Tertinggi (HET). HET beras medium Rp13.500/kg dan beras premium Rp15.000/kg.
Sementara itu, pedagang beras di Pasar Induk Rau Ahmad Dani menyebut harga di tingkat pengecer sudah naik. Beras medium dari Rp13.500 menjadi Rp14.200/kg, dan beras premium dari Rp13.500 menjadi Rp15.000/kg.
Kondisi ini membuat daya beli masyarakat melemah. Tak jarang pembeli mengurangi jumlah pembelian beras di tokonya.
Pemprov Banten memastikan akan turun tangan melalui operasi pasar beras SPHP jika harga beras meroket melewati HET.(Suhendi/Red)











